Swastamita
Beberapa langkah mulai tergesa, penat yang mulai menggerutu, lelah yang berangsur tumbuh menjadi amarah, serta tubuh yang terasa ingin segera luruh. Jejak itu berlomba lenyap bersamaan lahirnya jejak yang baru.
Klakson kendaraan saling bersahutan seolah menjadi ajang pelampiasan rasa lelah yang ingin segera berumah. Namun, lampu merah di jalan masih belum memberi aba untuk berlalu. Mungkin pikirnya perihal pulang tak perlu tergesa, karena sejatinya pemilik rumah tak akan pernah tersesat dalam perjalanannya.
Namun, tidak dengan kau.
Pada satu sore kali ini, disaat yang lain menginginkan pulang, justru kau menjadi yang paling mengagungkan untuk hilang. Langkahmu tergesa untuk pergi, mencari rumah baru untuk kau singgahi. Lampu merah tak mampu membuat langkahmu mengalah. Kau tetap melaju begitu cepat, memutuskan meninggalkan segala hal yang terikat.
Beberapa kali, di sore yang sudah-sudah, aku pernah mencoba meyakinkan dirimu yang sulit terjamah. Bahwa kau dapat menemukan dekap pada atap yang semula kau jadikan untuk menetap. Namun, keras kepalamu tak bisa kubuat patah. Kau tangguh bahwa kau hidup untuk sebuah pencarian, bukan pencapaian.
Mungkin sore kali ini akan terasa berbeda bagiku. Karena disaat yang lain menyambut kedatangan, justru aku merayakan kehilangan. Disaat yang lain menjadi utuh, justru aku tersisa separuh. Disaat yang lain menemukan rumah untuk pulang, justru kau memutuskan untuk hilang.
Lalu, disaat yang lain menjadi saling, justru aku dan kamu menjadi yang berpaling.
Sore kali ini berbeda, begitupun sore-sore berikutnya.
–Amanda Putri S.
27 Sep'20

Komentar
Posting Komentar